MUJIZAT KECIL

Hidup saya hampir tiap saat mengalami mujizat, saya pingin katakan tiap hari, tapi mungkin Anda nggak mudah percaya. Saya masih malu mengungkapkannya, karena banyak hal-hal yang bagi saya “sangat kecil” yang menunjukkan bagaimana saya menikmati kemustahilan setiap hari, hidup dalam mujizat dan mungkin menyanggah keberadaan Tuhan. Saya berharap suatu hari nanti saya nggak peduli dengan roh kemaluan lagi dan berani menceritakannya dengan terbuka mengenai hal-hal kecil yang saya maksud. (Sebagai penulis saya berusaha menggunakan tata bahasa sebenar mungkin, walaupun kadang-kadang nggak tepat. Seperti roh kemurahan, kalau ditulis roh “murah” artinya sudah beda; atau roh kekudusan kalau ditulis roh kudus juga beda banget. Jadi memang seharusnya penggunaan katanya bukan roh malu, tapi roh kemaluan. Hanya karena kemaluan sering diidentikkan dengan barang itu, jadi kata tepat kemaluan sering diasosiasikan melulu dengan yang itu ituuuu tok. Itu namanya ngeres, man! Jadi tolong ya, marilah kita menggunakan bahasa Indonesia dengan benar).

Balik bicara mujizat. Untuk mujizat-mujizat besar saya sudah banyak menuliskannya di beberapa buku dan FMH. Kali ini ada 2 mujizat “kecil” yang saya tidak bisa tidak, kudu menuliskannya, karena memang di luar zona otak manusia. Walaupun dalam bilangan ini kedua mujizat tersebut masih termasuk kategori “mujizat kecil”, tapi saya anggap mujizat unik.

Mujizat Satu. Saya diundang melayani kelompok di sekolah Nasional Plus-Plus, bergengsi, di kawasan elit, kumpulan menengah atas dan sekolahnya pake bahasa Inggris. Dalam satu hari itu saya diminta untuk berbicara sebanyak 3 sesi: seluruh anak-anak SMP-SMA; guru-guru; dan para orang tua murid. Mujizat terjadi pada saat saya memberikan ceramah kepada guru-guru yang kata mereka dari semua cabang-cabangnya terkumpul 200 orang dengan bule-bulenya dan tenaga-tenaga pengajar asing seperti dari Brazilia dan Filipina. Sebelum sesi ke-2 ini, saya dipulangkan dulu ke hotel, karena kostum berceramah di depan para pelajar saya usahakan sedemikian bedanya dengan di depan guru-guru, jadi saya diantar sopir pribadi sekolah ke hotel untuk ganti pakaian. Pada waktu saya hendak berangkat, entah mengapa kok saya harus meraih sepasang sepatu lain dan memasukkanya dengan cepat ke dalam tas. Ini tidak pernah terjadi dalam sejarah pelayanan saya, bahwa di dalam tas kerja terdapat Kitab Suci dan sepatu – itu tidak halal. Tapi, namanya muridnya Yesus, kalau Gurunya kadang melanggar Sabat untuk kebaikan, saya juga ternyata meniru he..he..he (nggak ada hukumnya lho, saya cuman becanda bilang nggak halal, tapi saya pikir kurang pantaslah bawa sepatu di tas lagian berbaur dengan ayat-ayat suci, nggak sopan, dan kesannya khan sepatu kotor, karena diinjak-injak).

Pada waktu saya berceramah, saya berjalan mondar-mandir dengan santai, karena sepatu hak tinggi, saya nggak mungkin berlarian di gedung bicara sambil ngos-ngosan. Tapi pada waktu saya berdiri di belakang podium, tiba-tiba saya merasakan suatu keanehan – pengikat depan sepatu saya lepas dan saya nggak bisa jalan! Sambil masih meneruskan materi, otak saya muter, apa yang harus saya lakukan, what shall I do? Konsentrasi agak buyar, saya panggil seorang wanita yang duduk di depan yang sejak pagi menemani saya, dan saya membisikkan sesuatu, sambil meminta maaf kepada hadirin, karena ada sesuatu yang terjadi dengan mendadak. Mereka bertanya-tanya, dan sang wanita lari ke belakang ruangan mencari beberapa karet untuk mengikat kaki saya dengan sepatu supaya saya bisa berjalan.

Setibanya di depan, karet berpindah tangan di genggaman, saya masih tetap bergaya bicara, tapi tangan saya satunya mencoba mengikat sepatu saya dengan karet. Untung podiumnya bukan yang transparan! Hadirin tertegun, saya agak panik dan saya minta para pemusik maju untuk membawakan lagu pujian selama kurang lebih 5 menit. Waktu mereka agak “on”, saya lari ke belakang masuk ke ruang audio. Team saya langsung merubung saya pingin tahu apa yang terjadi. Mereka bingung mencari lem perekat, ada memang tapi nggak mempan. Pengatur acara bingung, bolak-balik tanya ke saya masih berapa lama, saya bilang tunggu sampai lem kering donk. Tapi nggak kering-kering, waktu dicoba jalan tetap jebol.

Tiba-tiba muncul bolam di atas kepala ting ting, saya ingat bahwa di tas ada sepasang sepatu lain! Ya itulah, namanya juga orang lagi panik, mana inget ada spare sepatu di dalam tas! Salah satu team dari Jakarta langsung lari dengan sigap ke tempat duduk paling depan dan menyeret tas saya dan bimsalabim bosalabo surisurimasuri langsung mengeluarkan sepatu ajaib itu … trada.

Ajaib, ajaib, kenapa Tuhan yang bisa menjaga agar sepatu saya jebolnya nanti malam aja sesampainya di hotel kok malah milih urusan ribet harus saya disuruh bawa sepatu, pemirsa di-pause, team ikutan panik, panitia bingung, dan semua bertanya-tanya? Jawabannya adalah, agar saya bisa mengagumi Tuhan yang luar biasa itu dan agar saya belajar kepekaan terhadap dorongan yang Tuhan timbulkan dalam hati sekecil apa pun. Amen?

Mujizat Dua. Saya pelayanan diiringi beberapa pengusaha ke beberapa negara. Waktu itu kami harus masuk 2 negara dan perbatasan negara lainnya dan masih transit di negara lain – praktisnya sekali jalan masuk ke 4 negara. Tidak perlu berdebat bahwa untuk memasuki setiap negara pasti kita harus menunjukkan paspor dan diperiksa dengan teliti, dicek dengan komputer dan distempel. Waktu menyiapkan perangkat perjalanan, lagi, saya menyabet paspor lama saya dan menaruhnya di dompet bersama uang dolar. Tapi karena setiap masuk negara selalu pake paspor baru, jadi saya menaruhnya di tempat yang mudah dijangkau, di kantong depan tas jinjing.

Hari itu kami harus memasuki teritori negara lain, dan pagi itu saya mengganti tas dan lupa mengambil paspor saya di kantong depan tas yang biasa saya pakai itu. Tas yang “tidak perlu” itu saya tinggal di hotel, dan saya membawa tas lain yang lebih kecil. Pada waktu kami memasuki perbatasan, semua harus menunjukkan paspor – saya langsung berkeringat dingin! Kenapa jadi begini? Tapi saya ingat saya bawa paspor lama di dompet! Tapi apalah artinya paspor lama? Sudah digunting bagian pinggirnya sebagai tanda sudah tidak berlaku dan nggak ada stempel masuk negara! Saya berdoa, selama ini saya selalu mempersiapkan segalanya dengan teliti, tapi kenapa hari ini saya ceroboh? Tuhan ampuni saya. Tidak ada seorang pun yang berani memarahi saya, semua diam dan mungkin ikut berdoa. Tapi hanya 2 orang yang bener-bener agak peduli, lainnya bingung sendiri dengan urusannya, bisa dimengerti. Hati orang merasakan kesedihannya dan kegembiraannya sendiri-sendiri.

Semua mengeluarkan paspornya masing-masing yang warnanya seragam dan dengan gerak l-a-m-b-a-t- saya juga m-e-n-g-e-l-u-a-r-k-a-n paspor saya yang warnanya berbeda tanpa jaket merah. Hati saya kecut, dada saya keluar-masuk satu senti tiap setengah detik. Di kantor imigrasi kebetulan hanya rombongan kami saja yang sedang antre. Kami melewati ruangan besar, lorong-lorong yang berliku, bangunan atap gedungnya tinggi dan dingin. Tangan dan badan saya kaku, lalu saya menggandeng rekan saya dan bilang, “kok dingin ya?” Dia jawab, “enggak ah!” Serentak saya lepaskan pegangan saya, takut ketahuan – berarti bukan ruangannya yang dingin, saya sedang gemetar dan berkeringat salju!

Sesampai di loket petugas, semua berjajar, … tapi tiba-tiba ada keanehan yang tidak pernah saya temui di negara-negara yang saya pernah masuki. Orang paling depan berteriak menyuruh kami agar hanya membuka paspor bagian depan yang ada fotonya saja! Petugasnya tidak mau membuka paspor satu persatu, tidak mau ngecek dengan komputer, juga tidak mau ngetok dengan stempel, dari balik kaca sejauh satu meter dia hanya manggut-manggut waktu melihat foto dan orang berjalan dengan cepat. Bagian pinggir paspor yang digunting tertutup dengan tangan, dan warna jaket seragam jadi tidak kelihatan, tapi petugas hanya memandangi foto paspor lama saya 10 tahun lalu yang masih tetap sama dengan wajah saya yang sekarang! Ugh, lega.

Kami keluar, semua narik nafas panjang ngucap syukur. Di hawa yang dingin itu kok sekarang saya kepanasan ya? Ya, badai sudah berlalu. Itulah mujizat-mujizat unik yang saya alami, luar dari biasa, membuat saya makin percaya bahwa Tuhan bisa melakukan hal-hal yang mustahil, di luar pikiran manusia. Tapi kita tidak perlu mencobai atau menguji dan dengan sengaja pura-pura lupa membawa sesuatu agar mujizat terjadi. Dia tidak bekerja dengan cara itu, Dia bekerja saat kita sudah angkat tangan, Dia akan turun tangan.

http://www.maqdalene.net/index.php?option=com_content&task=view&id=196&Itemid=26

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s