Globalization

By : Hana Kristina Purba

Saat ini kita sering sekali mendengarkan kata globalisasi. Globalisasi seperti mantra yang sering diucapkan oleh banyak orang. Hampir setiap kejadian-kejadian didunia dianggap berhubungan dengan globalisasi, bahkan buku-buku pelajaran sekolahpun juga memperkenalkan istilah globalisasi kepada siswa tentang situasi saat ini, Benarkah?? Apa sebenarnya Globalisasi itu?

Namun dibalik penggunaan istilah globalisasi yang semakin “Massal” ini, sampai saat ini belum ada kesepakan diantara para teoritisi dalam menafsirkan istilah Globalisasi. Ada yang menyebut globalisasi sebagai pemadatan dunia dan intensifikasi kesadaran dunia sebagai satu keseluruhan, dan masih banyak  padangan teoritasi yang lain mengenai globalisasi. Menurut buku yang saya baca yang berjudul Kritik Globalisasi dan Neoliberalisme yang ditulis oleh Nanang Pamuji Mugasejati dan Ucu Martanto (Mereka alumni Fisipol UGM lho), ada beberapa pengertian globalisasi yang dipaparkan oleh sebagian para teoritis. Selain itu akan dibahas juga sedikit mengenai kritik Globalisasi dan Neoliberalisme. Sebenarnya ini adalah hasil presentasi saya mengenai globalisasi pada mata kuliah teori pembangunan dan informasi. Saya akan mencoba mensharingkan kepada teman-teman sekalian mengenai globalisasi dan kritik terhadap globalisasi tersebut. Semoga bermanfaat ya… J

Secara umum ada lima kategori besar defenisi Globalisasi (Scholte, 2000), yaitu :

  1. Globalisasi adalah Internasionalisasi

Dari persepktif ini ‘global’ adalah kata sifat untuk menggambarkan hubungan lintas-batas diantara Negara-negara. Paul Hirst dan Grahame Thomson mendefenisikan istilah globalisasi sebagai ‘large and growing  flows of trade and capital investment between countries’ (Hirst and Thompson, 1996:48)

  1. Globalisasi sebagai liberalisasi

Disini globalisasi dimaksudkan sebagai process of removing government-imposed restrictions on movements between countries in order to create an ‘open’, ‘borderless’ world economy. Dari sini, globalisasi menjadi slogan penting yang menggambarkan proses intergrasi ekonomi internasional (Sender, 1996 : 27). Titik berangkat dari proyek ini dimulai sejak ditetapkannya formasi global sebuah kebijakan free-trade. Kesepakatan Free-trade didasarkan asumsi sistem perdagangan yang terbuka lebih efisien dibandingkan dengan sistem protektionis dan dibangun diatas keyakinan bahwa persaingan bebas akan menguntungkan bagi Negara yang menerapkan prinsip-prinsip efektivitas dan efesiensi.

  1. Globalisasi adalah Universalisasi

Dalam penggunaannya global berarti worldwide. Sedangkan globalisasi adalah proses menyebarnya bermacam-macam barang dan ilmu kepada masyarakat kepada seluruh penjuru dunia (Raiser and Davies, 1940 dikutip dari Scholte, 2000). Tulisan Raiser dan Davies yang dibuat sebelum Perang Dunia II ini sedikit banyak diinspirasikan oleh kemajuan teknologi transportasi yang berhasil menggabuhungkan suatu wilayah dengan wilayah yang berjauhan.

  1. Globalisasi adalah westernisasi atau modernisasi atau bahkan amerikanisasi (Spybey, 1996; Taylor, 2000). Bahkan Negara-negara dunia ketiga menyamakan globalisasi dengan kolonialisme. Dalam konteks yang demikian, globalisasi adalah sebuah dinamika dimana struktur-struktur organisasi social dari modernitas (Kapitalisme, rasionalisme, industrialism, birokratisme, dan lain-lain) menyebar keseluruh dunia, dan biasanya proses penyebaran ini akan merusak keberadaan budaya-budaya dan etos local.
  2. Globalisasi adalah deteritorialisasi atau superteritorialisasi

Globalisasi menyebabkan rekonfigurasi geografis, sehingga ruang-ruang social tidak lagi terpetakan secara utuh dalam wilayah territorial, jarak teritorial dan batas teritorial. Dalam konteks ini Held dan MCGrew mengartikan globalisasi sebagai a process or set of process which embodies a transformation in the spatial organization of social relations and transaction (Held et all,. 1999:16). Kata global demikian merujuk pada sesuatu yang menyinggung sekaligus mencakup keseluruhan dari setiap hal serta sesuatu yang komprehensif dan total yang didalamnya memuat keterlibatan keseluruhan entitas dunia.

Sungguhpun kelima kategori defenisi ini berbeda-beda, namun pada umumnya diterima sebagai consensus bahwa ada tiga konsekuensi penting dari globalisasi. Pertama, globalisasi membuat kemampuan actor-aktor social dalam menginteksternalisasikan konsekuensi-konsekuensi yang tidak menyenagkan dari aktivitas yang mereka lakukan menjadi berkurang (jika tidak dikatakan meluruh). Kedua, globalisasi mendorong subsitem dan teritori nasional kearah sistem yang lebih komprehensif. Akan tetapi, meskipun subsistem-subsistem dan wilayah/teritori nasional telah terintegrasi kedalam sistem yang lebih komprehensif bukan berarti keberadaan subsistem-subsistem dan teritori nasional menjadi berakhir ataupun hilang sama sekali melainkan melahirkan interelasi dan berdampingannya subsistem kewilayah nasional-nasional.  Ketiga, dalam globalisasi aktivitas-aktivitas social, politik, dan ekonomi disuatu belahan dunia yang berupa kejadian-kejadian, keputusan-keputusan, dan kegiatan lainnya mampu melintasi batas-batas teritorial sehingga dapat berpengaruh kepada individu-individu dan komunitas-komunitas pada wilayah lain dibelahan dunia lain.

Ada 3 kelompok yang melihat Globalisasi (David Held, dkk, 1992 : 2)

  1. Kelompok Hiperglobalis

Ada beberapa pandangan dalam kelompok ini, diantaranya :

  • Negara tradisional telah menjadi tidak lagi relevan, lebih-lebih menjadi tidak mungkin menjadi unit-unit bisnis dalam sebuah ekonomi global.
  • Dalam lingkungan ekonomi yang tanpa batas ini pemerintah nasional hanya sebagai institusi perantara yang menyisip diantara kekuatan global dan regional yang sedang tumbuh serta mekanisme pengaturan global
  • Mereka juga mengklaim bahwa globalisasi ekonomi akan membawa pola baru antara pemenang dan pecundang sekaligus dalam suatu ekonomi global
  • Pembedaan lama antara Utara dan Selatan akan menjadi anakronisme karena pembagian buruh dalam ekonomi global akan menggantikan struktur tradisional antara pusat periferi dalam suatu arsitektur yang lebih komplek dari kekuatan ekonomi dunia
  1. Kelompok Skeptis

Menurut kelompok ini globalisasi bukanlah merupakan fenomena yang sama sekali baru tetapi mempunyai akar sejarah yang panjang. Kelompok skeptis juga memiliki beberapa pandangan, diantaranya  :

  • Kekuatan-kekuatan global sangat bergantung pada kekuatan mengatur dari pemerintahan nasional untuk menjamin liberalisasi ekonomi terus berlanjut
  • Ekonomi dewasa ini lebih didominasi ‘Regionalisasi’
  • Pertumbuhan ekonomi akan memarginalkan Negara-negara dunia ketiga karena perdagangan dan investasi hanya mengalir dinegera-negara kaya
  1. Kelompok Transformasionalis

Inti pandangan kelompok ini adalah :

  • Adanya keyakinan bahwa pada permulaan millennium baru, globalisasi adalah kekuatan utama dibalik perubahan-perubahan social, ekonomi, dan politik yang tengah menentukan kembali masyarakat modern dan tatanan dunia.
  • Proses globalisasi yang tengah berlangsung saat ini secara historis belum pernah terjadi sebelumnya, dimana tidak ada lagi pembedaan antara internasional dan domestic, hubungan-hubungan internal dan eksternal tidak lagi menjadi jelas.
  • Globalisasi yang berlangsung dewasa ini telah menempatkan kembali kekuasaan, fungsi dan pemerintahan nasional
  • Negara tidak dapat lagi bersembunyi dibalik klaim kedaulatan nasional.

Globalisasi ditandai dengan sejumlah hal, diantaranya adalah :

  • Globalisasi terkait erat dengan  kemajuan dan inovasi teknologi, arus informasi serta komunikasi
    • Globalisasi tidak dapat dilepaskan dari akumulasi kapital
    • Globalisasi berkaitan dengan semakin tingginya intensitas perpindahan manusia, pertukaran budaya, nilai dan ide lintas batas negara
    • Globalisasi ditandai dengan dengan semakin meningkatnya tingkat kertegantungan tidak hanya antar bangsa namun juga antar masyarakat.

PERBEDAAN NEOLIBERALISME DENGAN LIBERALISME

Seperti halnya globalisme, istilah neoliberalisme adalah hal yang baru atau setidaknya menemukan makna kebaruannya dari pendulunya, yakni liberalisme. Meskipun kedua istilah ini (Globalisme dan Neoliberalisme) berdiksi beda, namun keduanya hadir dalam wajah yang utuh : Saling menguatkan sehingga sulit untuk dipisahkan.

Ada beberapa perbedaan antara Neoliberalisme dengan Liberalisme versi Adam Smith, diantaranya adalah :

Neoliberalisme :

  • Dalam Neoliberalisme bukan hanya mekanisme pasar harus dipakai untuk mengatur ekonomi sebuah negara, tetapi juga dapat mengatur ekonomi global
  • Neoliberalisme menuntut kinerja pasar bebas sebagai cara untuk memakmurkan individu (individualwealth)
  • Neoliberalisme mensyaratkan pelimpahan otoritas regulatif dari tangan negara ke tangan individu, dari social welfare ke selfcare

Liberalisme (Adam Smith)

  • Liberalisme klasik menuntut pemerintah untuk menghormati kinerja pasar sebagai salah satu cara untuk memakmurkan ekonomi nasional/bersama (Nation/Common Wealth)
  • Liberal menjadikan mekanisme pasar sebagai salah satu acuan tetapi tetap mementingkan otoritas relutif negara

Implikasi dari ide-ide ini adalah antara lainnya lahirnya kebijakan-kebijakan deregulasi, debirokratisasi, liberalisasi pasar, dan privatisasi yang mulai diperkenalkan sejak era 1980-an.

Seperti dikemukan Bourdieu (2003: 24), Neoliberalisme tidak bereda jauh dengan marxisme dimasa lampau, dalam hal membangkitkan kepercayaan yang luar biasa, Utopia free trade faith tidak hanya pada mereka yang diuntungkan secara materi (Bankir, pemilik modal, bos perusahaan besar) tetapi juga mereka yang mendapatkan pembenaran dari paham ini, seperti pejabat tinggi dan para politikus yang menyembah kekuasaan pasar demi efektivitas ekonomi. Akibatnya dunia terseret kedalam lingkaran kebijakan neoliberal yang dampak-dampaknya telah merusak, tidak saja dibidang ekonomi dalam bentuk kemiskinan, tetapi juga ketundukan para politikus, para kreator seni dan budaya, ke dalam hukum-hukum pasar.

Aktor Utama bagi penyebaran gagasan neoliberal adalah :

  • Perusahaan-perusahaan Transnasional (TNC)
  • Lembaga-lembaga Keuangan Internasional (World Bank, IMF)
  • Organisasi kerjasama perdagangan Internasional (WTO, AFTA, NAFTA)

Aktor-aktor ini menciptakan aturan main global dan proses produksi global.

Perbedaan Era Pembangunan Dengan  Era Globalisasi-Neoliberal

  • Pembangunan lebih menekankan pada pertumbuhan ekonomi nasional dan lebih melihat kedalam negeri sendiri
  • Era Globalisasi, mereka didorong untuk menjadi ekonomi global, dimana aktor-aktornya bukan hanya negara tetapi perusahaan multinasional, lembaga-lembaga multiliteral serta rejim perdagangan regional dan global

Dampak Globalisasi

  • Dampak Positive
  • Globalisasi menjadi alasan bagi kebangkitan budaya lokal diberbagai belahan dunia yang ditandai dengan merebaknya nasionalisme lokal sebagai respon terhadap kecenderungan globalisasi
  • Menciptakan zona-zona ekonomi dan budaya baru didalam sebuah negara-bangsa maupun zona-zona ekonomi dan budaya baru yang melibatkan hubungan antar bangsa

Menjelang abad 21 Perusahaan Transnasional (TNC) mengalami perkembangan yang pesat . Kekuatan ekonomi TNC yang luar biasa semakin bertambah ketika era globalisasi, diantaranya :

  • TNC Menguasai 67%perdagangan antar dunia antar TNC
  • TNC Menguasai 34,1% dari total perdagangan Global
  • TNC Menguasai 75% dari total investasi global
  • TNC mampu mengontrol 75% perdagangan dunia (Fakih, 2001:214)

Dampak Negative

  • Memperlebar kesenjangan hidup antara negara maju dengan negara  berkembang
  • Munculnya dominasi yang luar biasa dari perusahaan raksasa, yang tidak hanya mampu mempengaruhi politik ekonomi disuatu negara, melainkan mengendalikan jalannya perkembangan dunia.
  • Globalisasi dan neoliberalisme tidak menciptakan sebuah kampung yang global (Global Village) yang sejahtera, tetapi lebih merupakan penjarahan global (Global Pillage) yang menyengsarakan khususnya dinegara-negara berkembang

Contoh :

Laporan Human Development Report UNDP tahun 2005 memperkirakan jika dengan skenario business as usual dari trend lima tahun terakhir, pada tahun 2015 :

ž  Sekitar  827 juta orang tetap tinggal dalam kondisi kemiskian akut (Extreme poverty)

ž  Kesenjangan Global dan Lokal pada tahun 2015

40% atau sekitar 2.5 Miliar penduduk dunia hidup dengan pendapatan 2 $US  per      hari atau setara dengan 5% dari total pendapatan  dunia

ž  Ditingkat regional, masalah kemiskinan semakin menghantui penduduk dikawasan Asia

ž  700 juta penduduk di Asia hidup dengan pendapatan kurang 1 $US perkapita

ž  Jika standar pendapatan dinaikkan menjadi 2 $US per kapita, maka ada sekitar 1.9 miliar penduduk asia yang hidup dibawah dan dibatas kemiskinan global

  • Jumlah ini bahkan lebih banyak jika dibandingkan dengan penduduk yang tinggal di Afrika (Newsweek, November 21, 2005)

Dengan melihat kompleksitas persoalan-persoalan yang berkaitan dengan globalisasi dengan neoliberalisme, penting untuk mengkaji kembali secara kritis dua istilah  yang semakin banyak digunakan itu. Secara khusus, kajian yang lebih mendalam juga perlu dilakukan untuk melihat dinamika interaksi antara yang local dengan yang global. Selain itu, yang tidak kalah pentingnya juga, perlu adanya penilaian kembali dampak globalisasi dan neoliberalisme terhadap Bangsa Indonesia.

Jika demikian, bisa jadi yang dikatakan oleh Easterly adalah benar bahwa tujuan Millenium Development Goals yaitu mengurangi jumlah orang miskin didunia menjadi separuhnya pada tahun 2015 hanya Utopia belaka (Tumiwa, 2005).

DAFTAR PUSTAKA

Mugasejati, Nanang Pamuji. Kritik Globalisasi dan Neoliberalisme. Yogyakarta : Fisipol UGM, 2006

Archer, M. (1990) ; ‘Forward’, in M. Albrow and E. King (eds), Globalization, Knowledge and Society: Readings from International Sociology. London: Stage

Fakih, M. (2001) Sesat Pikir Teori Pembangunan dan Globalisasi. Yogyakarta: Insist Press

Held, D. et al,. (1999) Global Transformations Politics, Ekonomi and Cultural. Stanford University Press, Standford California.

Hirst, P. and G. Thompson (1996) Globalization : Ten Frequently Asked Questions and Some Supprising Answer, Sounding, vol. 4 (Autumn)

Scholte, J.A (2000) Globalization : a Critical Introduction. Palgrave

Tumiwa, Fabby. (2005) MDGGs saja tidak cukup!. Kompas, 19 September 2005.

Newsweek, November 21, 2005

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s