“Promosi Perpustakaan Melalui Story Telling”

Zaman dahulu kala di sebuah desa tinggal sebuah keluarga yang terdiri dari Ayah, Ibu dan seorang gadis remaja yang cantik bernama bawang putih. Mereka adalah keluarga yang bahagia. Meski ayah bawang putih hanya pedagang biasa, namun mereka hidup rukun dan damai. Namun suatu hari ibu bawang putih sakit keras dan akhirnya meninggal dunia. Bawang putih sangat berduka demikian pula ayahnya.

Di desa itu tinggal pula seorang janda yang memiliki anak bernama Bawang Merah. Semenjak ibu Bawang putih meninggal, ibu Bawang merah sering berkunjung ke rumah Bawang putih. Dia sering membawakan makanan, membantu bawang putih membereskan rumah atau hanya menemani Bawang Putih dan ayahnya mengobrol. Akhirnya ayah Bawang putih berpikir bahwa mungkin lebih baik kalau ia menikah saja dengan ibu Bawang merah, supaya Bawang putih tidak kesepian lagi.

Cerita diatas adalah cuplikan dari dongeng bawang merah bawang putih yang sudah sering kita dengar ketika diceritakan oleh nenek, orang tua bahkan pernah ditayangkan dalam tayangan televisi. Masih banyak dongeng atau cerita rakyat dari seluruh wilayah nusantara di Indonesia yang dapat diceritakan kepada anak-anak baik dilingkungan sekolah ataupun didalam keluarga, sehingga dapat membantu anak untuk mengenal dan mengetahui cerita rakyat dari Indonesia. Menanamkan minat baca pada anak sejak dini dapat dilakukan dengan story telling. Dalam kegiatan story telling, proses bercerita menjadi sangat penting karena dari proses inilah nilai atau pesan dari cerita tersebut dapat sampai pada anak. Pada saat proses story telling berlangsung terjadi sebuah penyerapan pengetahuan yang disampaikan kepada audience. Banyak diantaranya tidak menyadari bahwa cara mengajar kepada anak dapat menimbulkan kesan tidak menyenangkan pada saat mereka mengenal buku. Pengalaman yang diperoleh anak saat mulai belajar membaca , akan melekat pada ingatanya. Kebanyakan anak merasa dipaksa saat ia belajar membaca. Namun dengan story telling pengalaman berbeda akan dirasakan oleh seorang anak. Melalui story telling, seorang anak akan belajar membaca tanpa merasa dipaksa untuk melakukannya.

Apa sebenarnya Story telling?? Menurut Pellowski (1997) Story telling adalah seni dari sebuah keterampilan bernarasi dalam bentuk syair dan prosa, yang dipertunjukkan atau yang dipimpin oleh satu orang di hadapan audience secara langsung dimana cerita tersebut dapat dinarasikan dengan cara diceritakan atau dinyanyikan, dengan atau tanpa music, gambar ataupun iringan lain yang mungkin dapat dipelajari secara lisan, baik melalui sumber tercetak, ataupun sumber rekaman mekanik.

Story telling merupakan seni berbicara yang dapat digunakan sebagai sarana untuk menanamkan nilai-nilai pada anak yang dilakukan tanpa harus menggurui sang anak. Story telling merupakan proses kreatif anak-anak yang dalam pekembangannya, senantiasa mengaktifkan bukan hanya aspek intelektual saja tetapi juga aspek kepekaan, kehalusan budi, emosi, seni, daya berfantasi, dan imajinasi anak yang tidak hanya mengutamakan kemampuan otak kiri tetapi juga otak kanan. Berbicara mengenai story telling, secara umum semua anak-anak senang mendengarkan story telling, baik anak balita, usia sekolah dasar, maupun yang telah beranjak remajua bahkan orang dewasa.

Layanan story telling di perpustakaan biasanya digunakan untuk promosi perpustakaan, karena pada dasarnya siswa sangat antusias sekali ketika gurunya membacakan sebuah cerita di perpustakaan. Pengalaman saya sebagai seorang pustakawan di sebuah sekolah, menyadarkan saya bahwa layanan story telling adalah salah satu yang paling diminati siswa ketika mengunjungi perpustakaan. Setiap kelas mendapatkan jadwal kunjungan ke perpustakaan 1 jam setiap hari, diluar jam istirahat dan pulang sekolah. Dalam kunjungan tersebut dimanfaatkan oleh siswa dan guru pendamping untuk membaca, belajar bersama dan story telling.

Menyajikan story telling yang menarik bagi anak-anak bukanlah suatu hal yang mudah untuk dilakukan. Terlebih lagi anak-anak hanya dapat berkonsentrasi mendengarkan cerita hanya dalam waktu singkat, jika waktu mendongeng terlalu lama akan membuat anak merasa cepat bosan dan tidak antusias lagi. Dengan adanya kegiatan story telling tentu dapat memberikan pengaruh pada anak.

Menurut Bunanta (2009) ada berbagai konsep story telling yang dapat digunakan untuk mengajak anak membaca. Konsep story telling dan bermain, story telling sambil bermain music, mengadakan festival story telling dengan konsep pementasan teater dari anak untuk anak, dan sebagainya. Dengan banyaknya konsep yang diusang, story teller atau penearita dapat menampilkan cerita secara menarik dan kreatif sehingga siswa tidak merasa bosan. Belajar sambil bermain adalah suatu hal yang tidak pernah lepas dari seorang anak, hal inilah yang harus diingat oleh pencerita. Dimasa sekarang, bercerita memang merupakan hal yang jarang dilakukan. Peran dan fungsinya sudah banyak tergantikan oleh tayangan televisi dan bermain game di komputer. Zaman memang dinamis, meski tidak selalu menimbulkan dampak yang harmonis. Terlepas dari semua itu, cerita memiliki kekuatan, fungsi dan manfaat sebagai media komunikasi, sekaligus metode dalam membangun kepribadian anak. Cara bercerita merupakan unsur yang membuat cerita itu menarik dan disukai anak-anak, Fakhruddin (2009).

Dengan perkembangan teknologi informasi saat ini perpustakaan juga mengalami perubahan, kalau dahulu perpustakaan hanya berfungsi sebagai tempat untuk meminjamkan pustaka, saat ini semakin berkembang fungsinya. Hal ini terbukti dengan jenis layanan yang disediakan oleh perpustakaan yang semakin beragam, contohnya adalah layanan bercerita/story telling. Tidak hanya pada perpustakaan sekolah, perpustakaan daerah dan perpustakaan kota pun menyediakan layanan ini. Layanan ini dapat meningkatkan minat baca anak usia dini, usia taman kanak-kanak maupun usia sekolah dasar.

Kegiatan layanan ini tidak hanya memberikan cerita kepada anak di perpustakaan saja, akan tetapi story telling juga bertujuan memberikan pelatihan kepada guru-guru dan pustakawan sekolah tentang story telling yang baik dan benar.

Mendongeng adalah warisan leluhur yang perlu dilestarikan dan dikembangkan sebagai salah satu sarana positif guna mendukung kepentingan sosial secara luas. Walaupun tradisi ini semapat memudar karena persaingan budaya modern, tetapi kondisi ini tidak bertahan lama. Di Indonesia kegiatan mendongen sudah kembali digiatkan, bahkan telah berkembang menjadi sejumlah perkumpulan dongeng. Perpustakaan, toko buku, maupun taman baca mengadakan kegiatan mendongeng secara rutin sebagai bagian dari agenda kegiatannya.

Mari kita mulai dari diri sendiri, sebagai orang tua, mari antarkan anak kita ke tempat tidur dengan satu dongeng setiap malam, sebagai seorang guru atau pustakwan mari tanamkan gemar membaca dengan story telling di dalam perpustakaan, sehingga budaya mendongeng tetap terjaga dan membantu sang anak untuk menanamkan minat baca dari usia dini.

Sumber Bacaan :
Agustina, Susanti. 2008. Mendongeng Sebagai Energi Bagi Anak. Jakarta. Rumah Ilmu Indonesia

Boltman, Angela. 2001. Children’s Story Telling Techologies: Difference in Ellaboration and Recall. http://itiseer.1st.psu.edo.563253.html

Bunanta Murti. 2009. Buku, Dongeng dan Minat Baca. Jakarta. Murti Bunanta Fondation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s