Evaluasi Layanan Perpustakaan Sekolah dengan Medote LibQual

Image

UU No. 43 tahun 2007 menyatakan bahwa : (1). Setiap sekolah/madrasah menyelenggarakan perpustakaan yang memenuhi standar nasional perpustakaan dengan memperhatikan Standar Nasional Pendidikan; (2) Perpustakaan sebagaimana dimaksud pada ayat 1 wajib memiliki koleksi buku teks pelajaran yang ditetapkan sebagai buku teks wajib pada satuan pendidikan yang bersangkutan dalam jumlah yang mencukupi untuk melayani semua peserta didik dan pendidik; (3) Perpustakaan sebagaimana dimaksud pada ayat 1 mengembangkan koleksi lain yang mendukung pelaksanaan kurikulum pendidikan; (4) Perpustakaan sekolah/madrasah melayani peserta didik pendidikan kesetaraan yang dilaksanakan di lingkungan satuan pendidikan yang bersangkutan; (5) Perpustakaan sekolah/madrasah mengembangkan layanan perpustakaan berbasis teknologi informasi dan komunikasi; (6) Sekolah/madrasah mengalokasikan dana paling sedikit 5% dari anggaran belanja operasional sekolah/madrasah atau belanja barang di luar belanja pegawai dan belanja modal untuk pengembangan perpustakaan.

Untuk mendukung pasal 23 UU No. 43 tahun 2007 diatas, maka pelayanan perpustakaan harus diperhatikan dengan sungguh-sungguh sehingga dapat menunjang fungsi perpustakaan sekolah sebagaimana mestinya.  Pelayanan perpustakaan merupakan bagian yang terpenting dari pendidikan, artinya bahwa kebutuhan pemustaka harus dipenuhi oleh perpustakaan. Baik buruknya suatu perpustakaan terutama ditentukan oleh kepuasan pemustaka. Sedangkan kepuasan pemustaka ditentukan oleh layanan yang diperolehnya dari perpustakaan. Penggunaan kriteria tingkat kepuasan pemustaka tidak terlepas dari indentitas perpustakaan sendiri, yaitu sebagai lembaga pengelola informasi dengan salah satu kegiatan pokoknya adalah memberikan layanan.

layanan yang baik adalah layanan yang berorientasi pada pemustaka. Dalam hal ini dapat diartikan bahwa layanan yang baik adalah layanan yang berorientasi pada kebutuhan yang diinginkan/diharapkan pemustaka, tepat mengenai sasaran sesuai dengan tuntutan para pemustaka. Oleh karena itu, dalam memberikan/memenuhi kebutuhan informasi pada pemustaka, penerapan konsep layanan yang baik jelas merupakan sesuatu yang tidak bisa ditawar lagi.

Ada satu metode yang digunakan untuk mengukur kualitas layanan perpustakaan, dan biasanya diterapkan diperpustakaan umum, perguruan tinggi atau perpustakaan khusus. Mungkin metode ini juga bisa diterapkan di perpustakaan sekolah. Dengan demikian perpustakaan sekolah dapat mengetahui sejauhmana layanan perpustakaan sekolah yang sudah diberikan kepada pemustaka dapat memberikan kepuasan, keleluasaan dan kenyaman bagi pemustaka. Metode yang dimaksud adalah metode atau sistem yang sesuai dengan standar baku pelayanan publik  adalah LibQual+TM. LibQual+TM yang dikembankan oleh para pakar bidang ilmu perpustakaan dan informasi yang tergabung dalam ARL (Association Research Library) di Amerika Serikat bekerjasama dengan Texas A&M University. LibQual+TM adalah salah satu metode yang khusus dikembangkan untuk mengukur kualitas layanan perpustakaan.

Menurut LibQual+™, yang dimaksud dengan mutu pelayanan adalah selisih (gap) antara harapan (desired) dan persepsi (perceived). Kesenjangan (gap) antara harapan dan persepsi pemustaka inilah yang disebut mutu pelayanan perpustakaan. Mutu pelayanan dianggap baik, bila skor persepsi lebih tinggi dari harapan, dan sebaliknya, mutu pelayanan dianggap belum baik, bila skor persepsi lebih rendah dari harapan.

Metode LibQual+ digunakan untuk mengukur kualitas layanan perpustakaan berdasarkan tiga dimensi yang dijadikan indikator pengukuran yaitu:

  1. Affect of service, yaitu kemampuan, sikap dan mentalitas petugas perpustakaan dalam melayani pengguna, yang meliputi: a) Assurance, yaitu pengetahuan, wawasan, kemampuan dan keramahan pustakawan/petugas perpustakaan dalam melayani pemustaka. Dengan pengetahuan, wawasan, kemampuan dan keramahan tersebut membuat pemustaka menaruh rasa percaya kepada layanan perpustakaan. b) Empathy, rasa peduli dan memberi rasa penuh perhatian kepada setiap individu pemustaka. c) Responsiveness, selalu siap/tanggap membantu pengguna yang kesulitan dan selalu membuka diri untuk membantu, dan d) Reliability, yaitu kemampuan memberikan janji dan harapan dalam pelayanan dan menepatinya secara tepat dan akurat.
  2. Information control, yaitu menyangkut tentang ketersediaan koleksi yang memadai, kekuatan koleksi yang dimiliki, cakupan isi (scope of content), kemudahan akses untuk menemukan koleksi, kemudahan navigasi (ease of navigation), aktualitas (timeliness), waktu yang dibutuhkan dalam mendapatkan informasi, ketiadaan hambatan dalam mengakses informasi pada saat dibutuhkan, peralatan (equipment), kenyamanan (convenience) dan self reliance (kepercayaan diri).
  3. Library as place, yaitu perpustakaan sebagai sebuah tempat, ini diambil dari konsep tangibles dalam ServQual, yaitu kemampuan menampilkan sesuatu secara nyata berupa fasilitas fisik (physical fasilities), dan bagaimana perpustakaan dalam memanfaatkan ruang (utilitarian space), sebagai simbol dan tempat perlindungan (Refuge

Evaluasi terhadap kualitas layanan perpustakaan dapat memberikan gambaran serta untuk memberikan masukan dalam memprediksi dan memperbaiki suatu layanan tertentu dalam pencapaian kualitas layanan yang lebih baik. Pentingnya melakukan evaluasi juga merupakan langkah awal untuk pengembangan kebijakan perbaikan terhadap layanan perpustakaan.

Semoga metode ini dapat membantu perpustakaan sekolah dalam mengevaluasi kualitas layanan perpustakaan sekolah. Perpustakaan sekolah Athalia akan memulai mengevaluasi layanan perpustakaan sekolah menurut metode LibQual+TM di semester II tahun ajaran 2013/2014 ini.

 

 

Referensi :

Aprianto, Edo. 2005. Pengukuran Tingkat Kepuasan Pengguna UPT Perpustakaan IPB. Skripsi, Bogor: Departemen Statistika FMIPA Institut Pertanian Bogor

Cook, C.F.M., and Heath. 2001. “LibQual: Service Quality Assessment in Research Libraries.” IFLA Journal vol.27, no. 4 : 264-268

Indonesia. 2007. Undang-undang Republik Indonesia No.43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan. Jakarta: Perpustakaan Nasional Republik Indonesia

Irawan, Handi. 2002. 10 Prinsip Kepuasan Pelanggan. Jakarta: Elek Media Komputindo

Lasa, HS. 1994. Jenis-jenis Pelayanan Informasi Perpustakaan. cet.1. Yogyakarta: Universitas Gajah Mada

Nasution, M. N. 2004. Manajemen Mutu Terpadu (Total Quality Management). Jakarta: Ghalia Indonesia

Sri-Sumekar. 2004. Komunikasi Dalam Layanan Perpustakaan. Jakarta: Perpustakaan Nasional Republik Indonesia

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s